Makna Hari Raya Galungn dan Kuningan bagi Umat Hindu
Hari raya Galungan jatuh pada pinanggal Buda Kliwon Dungulan adalah hari memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan DHARMA melawan ADHARMA. Umat Hindu
melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa
Bhatara/Bhatari dengan segala manisfestasinya, sebagai tanda puji syukur atas
berkah rahmatnya serta untuk keselamatan semua umat manusia. Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau
bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti
menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan,
sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya
berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian
pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang
artinya sama yaitu manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini.
Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama
di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede
Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI)
memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia
sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini
didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji
Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali
dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan
pasti.